Suara-suara dari Sangiang

Sangiang, begitulah pulau itu biasa disebut oleh masyarakat luas. Pulau indah dengan beribu kisah. Namun dibalik keindahannya, banyak pihak yang ingin merebut, membuat masyarakat yang telah puluhan generasi hidup disana menjadi terancam keberadaannya. Ada banyak jeritan hati masyarakat pulau Sangiang, yang membuat hati pendengar seakan tersayat. Jeritan penuh kegetiran.

Bapak Aang, seorang warga yang bekerja sebagai pembuat arang, mengatakan bahwa selama ini ia bisa memenuhi kebutuhan keluarganya dengan memanfaatkan apapun yang tersedia di pulau tersebut, potongan kayu contohnya. Kayu-kayu yang ada disepanjang pantai ia manfaatkan untuk menjadi arang, dan ia jual keluar pulau. Ia tak bisa  membayangkan jika pulau Sangiang yang telah menghidupi seluruh keluarganya direbut oleh orang serakah.

Sebagaimana dengan cerita bapak Aang, seorang warga yang bekerja sebagai pemandu wisata di pulau Sangiang mengatakan bahwa mereka sering dituduh meminta pungli ketika mendapat upah dari wisatawan yang ditemani berkeliling pulau tersebut. Ia mengatakan bahwa pemandu hanyalah menemani  wisatawan untuk berkeliling disepanjang pantai, namun tidak ketika harus memasuki kawasan hutan. Karena untuk memasuki hutan di Kawasan pulau Sangiang tidak boleh sembarangan tanpa adanya pemandu yang berasal dari masyarakat asli.

Ada cerita lain lagi, kali ini dari seorang bapak yang bekerja sebagai pemungut sampah. Ia bercerita bahwa meskupun bekerja sebagai pemungut sampah, ia bisa tetap menyekolahkan anaknya dan memenuhi kebutuhan keluar. Ia menjual sampah yang  dipungut dengan harga Rp.1500,- per kilo nya. Walaupun demikian, ia tetap bersyukur bisa memenuhi kebutuhan keluarga dari sampah-sampah yang dipungut di sekitar pulau Sangiang. Ia juga mengeluh bahwa Pulau Sangiang sangat minim sarana Kesehatan seperti puskesmas, supaya ketika masyarakat pulau Sangiang sakit, tidak perlu lagi harus menyebrang ke darat untuk berobat. Untuk itu, beliau sangat berharap pulau Sangiang nantinya mempunyai sarana Kesehatan demi kebutuhan masyarakat disana.

Bapak Rahmat, seorang warga pulau sangiang yang bekerja menjadi nelayan sejak tahun 2015. Sebelumnya beliau bekerja sebagai petani. Akan tetapi tiba-tiba ada hama babi yang menyerang tanaman warga pulau sangiang, yang membuat masyarakat pulau Sangiang menjadi resah dan bingung harus bekerja apa lagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hamababi dianggap sangat mengganggu pekerjaan wargapulau sangiang terlebih yang bekerja sebagai petani. Sampai saat ini hama babi tersebut masih meresahkan masyarakat pulau Sangiang. Beliau mengatakan bahwa masalah hama babi ini bermula dari perselisihan masyarakat pulau sangiang dengan pihak PT. Pondok Kalimaya Putih (PKP) dan Perhutani. “mungkin mereka secara halus mengusir masyarakat pulau Sangiang, akhirnya matilah pertanian pulau Sangiang” katanya dengan raut wajah yang sedih sekaligus kesal. Hal tersebut membuat ia harus mencari pekerjaan lain seperti menjadi seorang pemulung atau nelayan. Beliau berharap pulau Sangiang bisa Kembali seperti dulu lagi, dimana masyarakat bisa Kembali menjadi seorang petani yang dianggap lebih menjanjikan daripada menjadi nelayan, apalagi menjadi pemulung.

Lain waktu kami mendengar abah Parman, yang sehari-harinya sebagai pembabat rumput bercerita mengenai banyaknya lahan yang dirusak oleh babi-babi yang ada di pulau Sangiang. Sebelumnya beliau bekerja sebagai petani yang menanam padi ketika tanah pulau Sangiang masih subur dan belum ada hama babi. Mereka dianggap sebagai petani illegal oleh pihak PT tersebut. “padahal saya dari tahun 1974 di sini. Ini menanam kelapa tahun 1976. Sampai sekarang saya tidak bisa bercocok tanam karena ada hama babi,” ucapnya. Ia tentu saja punya harapan berharap pulau sangiang bisa subur Kembali seperti dulu. “pengakuan dari perusahaan bahwa seluruh pulau ini sudah dibeli, siapa yang menjual?” ungkapnya dengan nada kesal. Ia juga bercerita bahwa dulu, tahun 2000an masyarakat pulau Sangiang pernah diusir oleh Kopassus. Mereka memasang bom di dekat rumah warga, rumah pak RT, bahkan di masjid yang menyebabkan kaca masjid pecah.

Pak Ustad mengatakan bahwa masyarakat dengan bersusah payah untuk membangun pulau Sangiang. Ada banyak kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat secara bersamaan. Pak Ustad berharap kedepan pemerintah mau membantu masyarakat pulau Sangiang supaya menjadi lebih baik lagi.

Pak RT yang sudah menjabat sejak tahun 1992 sampai saat ini, berkata beliau memohon ada yang akan menggantikan beliau yang sudah tua. Beliau juga kesal kepada pemerintah yang tidak mau menanggapi keluhan-keluhan masyarakat pulau Sangiang. Beliau mengatakan pihak perusahaan yang berniat merebut pulau sangiang merebut segala sesuatu yang dipakai oleh warga untuk Bertani demi mengusir warga pulau Sangiang supaya tidak menempati pulau Sangiang yang katanya sudah menjadi milik perusahaan. Pak RT mengatakan bahwa mereka bingung harus memohon kepada siapa, kepada pemerintah atau ke pihak perusahaan. “jangan ketika pemilu datang meminta suara. Kalua begini tidak ada yang membantu. Sekarang pulau Sangiang belum merdeka. Petani kami lumpuh karena dikasih babi sama perusahaan. Harapan kami tolong merdekakan pulau Sangiang,” kata beliau dengan penuh harap.

Itulah beberapa suara getir dari masyarakat pulau Sangiang. Harapan mereka sederhana saja, sebagaimana laku hidup mereka sehari-hari; mereka hanya ingin tinggal di pulau Sangiang tanpa merasa khawatir akan terusir, hanya ingin diberikan hak untuk mengelola tanah dan air untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Pendaftaran Pendidikan dasar

Tanda tangan petisi